Pengalaman Warga Indonesia dan
Dinginnya Musim Dingin di Korea Selatan
Di negara dengan iklim empat musim, suhu dibawah nol derajat adalah hal yang biasa ditemukan pada saat memasuki musim dingin yang puncaknya biasanya terjadi di bulan Desember hingga Februari.
Masyarakat Indonesia, yang tinggal di negara tropis tentu saja hanya mengenal dua jenis iklim, musim kemarau dan hujan. Lalu, ketika masyarakat Indonesia tinggal di salah satu negara empat musim, seperti di Korea Selatan ini, bagaimana mereka mengatasi perbedaan musim yang ekstrim, khususnya saat musim dingin, dan aktifitas apa yang biasa dilakukan warga Korea Selatan dimusim dingin ini?
Fajar Nugraha seorang TKI menuturkan bagaimana pengalamannya menghadapi musim dingin pertama kali di Korea Selatan.
“Persiapan kurang matang,” ujar Fajar tertawa seraya mengingat-ingat masa pertama ia tiba di Korea Selatan. “Sehingga, akibat yang ditimbulkan itu sering gatal-gatal. Seluruh badan gatal-gatal pertama musim dingin disini.”
Cerita pengalaman yang berbeda datang dari Ali asal Pemalang, yang sudah 4 tahun tinggal dan mencari nafkah di negeri ginseng, sebagaimana yang disampaikannya kepada RRI.
“Pertama saya disini, di Korea itu bulan 6, tahun 2010. Terus setelah itu lebaran. Habis lebaran itu menginjak musim dingin, saljunya itu pas tebel banget,” jelas Ali. “Yang pertama saya alami itu hidungnya keluar darah. Keluar darah, panik, bingung, dikirain sakit. Setelah saya tanya senior, ternyata itu dari efek karena kedinginan.”
Meski mengalami masalah saat menghadapi musim dingin, mereka berdua juga memiliki cara masing-masing untuk mengatasi masalah mereka.
Fajar mengaku menggunakan lotion untuk menghilangkan masalah gatalnya.
“Diobatin pakai lotion. Lotion kaya handbody lotion, ya mengurangi rasa gatal. Memakai pakaian-pakaian tebal. Itu untuk tahun pertama. Untuk tahun selanjutnya, karena kondisi badan sudah menyesuaikan dengan kondisi iklim disini, tidak apa-apa. Ya dinginnya dingin biasa, tidak ada gatal-gatal lagi seperti tahun-tahun sebelumnya.”
“Kan biasanya, tiap pergantian musim saya suka demam. Sebelum menjelang musim dingin saya sudah disuntik buat kekebalan tubuh. Sampai sekarang, alhamdulillah saya belum kena demam, seperti teman-teman saya pada umumnya,” tambahnya lagi.
Di negara dengan iklim empat musim, suhu dibawah nol derajat adalah hal yang biasa ditemukan pada saat memasuki musim dingin yang puncaknya biasanya terjadi di bulan Desember hingga Februari.
Masyarakat Indonesia, yang tinggal di negara tropis tentu saja hanya mengenal dua jenis iklim, musim kemarau dan hujan. Lalu, ketika masyarakat Indonesia tinggal di salah satu negara empat musim, seperti di Korea Selatan ini, bagaimana mereka mengatasi perbedaan musim yang ekstrim, khususnya saat musim dingin, dan aktifitas apa yang biasa dilakukan warga Korea Selatan dimusim dingin ini?
Fajar Nugraha seorang TKI menuturkan bagaimana pengalamannya menghadapi musim dingin pertama kali di Korea Selatan.
“Persiapan kurang matang,” ujar Fajar tertawa seraya mengingat-ingat masa pertama ia tiba di Korea Selatan. “Sehingga, akibat yang ditimbulkan itu sering gatal-gatal. Seluruh badan gatal-gatal pertama musim dingin disini.”
Cerita pengalaman yang berbeda datang dari Ali asal Pemalang, yang sudah 4 tahun tinggal dan mencari nafkah di negeri ginseng, sebagaimana yang disampaikannya kepada RRI.
“Pertama saya disini, di Korea itu bulan 6, tahun 2010. Terus setelah itu lebaran. Habis lebaran itu menginjak musim dingin, saljunya itu pas tebel banget,” jelas Ali. “Yang pertama saya alami itu hidungnya keluar darah. Keluar darah, panik, bingung, dikirain sakit. Setelah saya tanya senior, ternyata itu dari efek karena kedinginan.”
Meski mengalami masalah saat menghadapi musim dingin, mereka berdua juga memiliki cara masing-masing untuk mengatasi masalah mereka.
Fajar mengaku menggunakan lotion untuk menghilangkan masalah gatalnya.
“Diobatin pakai lotion. Lotion kaya handbody lotion, ya mengurangi rasa gatal. Memakai pakaian-pakaian tebal. Itu untuk tahun pertama. Untuk tahun selanjutnya, karena kondisi badan sudah menyesuaikan dengan kondisi iklim disini, tidak apa-apa. Ya dinginnya dingin biasa, tidak ada gatal-gatal lagi seperti tahun-tahun sebelumnya.”
“Kan biasanya, tiap pergantian musim saya suka demam. Sebelum menjelang musim dingin saya sudah disuntik buat kekebalan tubuh. Sampai sekarang, alhamdulillah saya belum kena demam, seperti teman-teman saya pada umumnya,” tambahnya lagi.
Ali mengaku dirinya mendapatkan masukan dari warga Korea Selatan yang juga seniornya di tempat kerja untuk mengonsumsi minuman jeruk yang dicampur madu.
“Namanya yujacha. Kita beli kalengan. Diminum itu rutin sehari dua kali, insya Allah akan gak pernah pilek, gak pernah pusing, selama musim dingin agar badan terasa hangat. Dan gak terasa capek juga,” jelas Ali. “Jadi kalau kita kerja di pabrik, selalu diselingi minum yujacha.”
Berbicara tentang salju, cuaca dan suhu dingin yang berubah-ubah setiap hari, tidak hanya warga Indonesia saja, warga Korea Selatan pun umumnya mengandalkan prediksi cuaca dari lembaga setempat untuk beraktifitas, seperti yang dituturkan Eun bi, warga Korsel yang lama tinggal di Indonesia.
“Kalau di Korea perkiraan cuacanya bisa dipercaya. Jadi, biasanya orang sebelum pergi keluar rumah selalu cek hari ini cuacanya kaya gimana,” jelasnya. “Biasanya kalau musim dingin di Korea itu gak setiap hari dingin. Jadi ada yang kaya minggu kemarin gak begitu dingin, terus minggu ini dingin banget. Kalau minggu kemarin gak terlalu dingin paling pakainya (pakaian) cuma dua (lapis).”
Eun bi menambahkan pula di Korea dikenal pakaian Naebok yang digunakan sebagai baju dalaman ketika musim dingin.
Hal yang menarik adalah meskipun ditengah cuaca dingin menerpa, selain kegiatan olahraga ski es yang biasa ada dibanyak negara-negara bersalju, di Korsel ini juga banyak kegiatan atau festival, yang khusus diselenggarakan pada musim dingin. Eun bi menuturkan di Korea Selatan sering diadakan festival yang menyambut musim dingin. Salah satu yang sering menjadi favorit para turis adalah memancing ditengah danau membeku.
Air danau yang telah membeku akibat hawa dingin dilubangi sebagai tempat memasukkan kail ke dalam air danau dan para turis memancing disitu.
Di musim dingin dengan suhu dibawah nol derajat celcius, tentu membuat banyak benda cair dan sumber-sumber air menjadi beku. Warga Korsel mempunyai kebiasaan unik untuk membuat air keran tidak membeku dan menghindarkan pipa air dari kerusakan. Yaitu meneteskan air dari keran-keran di dalam rumah dengan membukanya sedikit ke arah saluran air panas.
“Supaya gak beku,” kata Eun bi menutup penjelasannya.
Via RRI

Tidak ada komentar:
Posting Komentar